Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Cerita ini saya tulis untuk mengenang kembali teman KKN saya yang saat ini ntah ada dimana. Semoga engkau selalu diberikan yang terbaik olehNya. Dan jika kau ada di suatu tempat “segera balik bro!. kita dah gak sabar nunggu banyolanmu dan traktiranmua lagi :D”

Sulit sekali untuk dipercaya. Sepatu pertualanganmu, motor balapmu, jaket kulitmu, dan handphone sampai saat ini kamu tinggal begitu saja  Seakan-akan kau hanya tinggal nama. Atau mungkin memang benar-benar sudah tinggal nama untuk selamanya?

17 Agustus 2011 kira-kira pukul 14.30 kami para rombngan KKN tiba di Pantai Seribu (bukan nama pantai sebenarnya). Pantai Seribu termasuk dalam rangkaian pantai selatan, terletak di desa Merbabu, kecamatan Rejosari, sekitar 40 km dari kota Bali-bali. Dari kota Bali-bali  menuju ke arah Limaru sampai pertigaan sebelum pasar Legowo belok ke kiri/arah timur terus mengikuti jalan utama sampai ke desa Seribu kira-kira 45 menit perjalanan. Kebetulan saat itu kami mendapat tempat KKN di Kota Bali-bali sehingga selama disana target kita adalah menaklukkan kota tersebut dengan  menjelajahi semua tempat pariwisata dan menikmati keindahan alamnya.  Kami hanya berencana untuk pergi kesana tanpa mengetahui kedaan geografis,  sejarah,  dan misteri dibalik tempat tersebut. Dengan mengendarai motor tanpa pikir panjang kami langsung meluncur ke tempat yang kita tuju.  Ternyata eh ternyata, wow jalanan lumayan terjal dan lumayan jauh. Selain itu jalan aspal pun  tidak semulus seperti di  jalan-jalan biasa. 

Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari kota Bali-bali,  sampailah kita di pantai yang kita tuju. Tempat pariwisata itu lumayan sepi. Sebelum tiba di pantai tersebut kami melewati bukit-bukit, dan tambak-tambak. Tempat itu masih terlihat asli, karena belum ada pemugaran total seperti pantai-pantai lain. Biasanya kalau di pantai lain banyak orang berjualan berbagai  souvenir, baju-baju dan persewaan perahu untuk mengintari pantai. Selain itu juga ramai dengan kunjungan wisatawan. Akan tetapi berbeda dengan pantai selatan satu ini.  Daerah sekitar pantai terdapat kampung nelayan sekitar 20 kilometer dari bibir pantai yang kanan dan kirinya di apit oleh bukit. Bila kita berjalan ke sebelah timur dan mendaki bukit yang tanjakannya lumayan cukup terjal maka akan kita jumpai tempat kapal-kapal nelayan yang sedang tersandar. Walaupun waktu itu adalah tanggal merah 17 Agustus, hanya  dua kelompok wisatawan yang berkunjung disana. 

Sepertinya tempat ini jarang dikunjungi wisatawan sehingga para pedagang besar enggan untuk menjajakan dagangannya disana. Yang paling menarik penglihatan kami adalah diatas bukit  terdapat sebuah pelataran putih berbentuk persegi berkeramik. Dan disamping pelataran tersebut terbangun pagar. Jika dilihat dari pesisir pantai, terlihat bangunan putih  diatas bukit.  Tempat itu digunakan untuk  memperkirakan bulan Ramadhan dan menentukan hari Raya Idul Fitri. 

Ketika kami tiba disana ombak dipantai tidak terlalu besar. Terlihat tenang, anggun, tersenyum  seakan-akan menyambut ramah kedatangan kita. Karena melihat situasi pantai yang begitu ramah dengan kedatangan kami, maka tak segan-segan kami turun dipesisir pantai tanpa melihat peringatan bahwa dilarang mandi dipantai. Ntah apa maksud dari peringatan tersebut. Walaupun sebenarnya kami semua tak mandi dan hanya berfot-foto ria.  

Langit tampak cerah, ombak terlihat tenang dan saling merekat.  Suasana pantai begitu hening. Karena  melihat kondisi pantai maka motorpun kami masukkan sampai mulut pantai. Mesin motor menderu-deru seolah-olah tidak kuat melangkahkan kakinya dan enggan untuk diajak menuju bibir pantai. Pasir begitu tebal, sehingga jika dilewati motor biasa sangat susah untuk dilalui kecuali  jika motor itu digas dengan kekauatan super baru  bisa berjalan.  

Setelah melalui lautan pasir yang kurang bersahabat akhirnya kami berhasil merapatkan motor tepat di bibir pantai. Kami pun langsung berlarian, narsisme pun dimulai. Kami berfoto-foto  mengambil beberapa pose agar bisa terlihat pemandangan sekitar pantai. 

Kami saling bergantian dalam mengambil foto, karena semuanya ingin difoto dan ingin nampang disetiap sudut pantai. Setelah lelah dan puas berfoto ria, melihat kondisi ombak yang semakin besar, maka kami sepakat untuk menyatukan alat komunikasi dan dompet untuk disimpan dalam jok motor teman kami “Rangga”. Kemudian semuanya pun menyebar, ada yang bermain air dipesisir pantai, ada juga yang enggan untuk menyeburkan dirinya karena takut masuk angin dan sebagainya. Walaupun begitu, ada beberapa teman kami yang sangat usil dengan mencari orang-orang yang enggan untuk membasahkan diri. Dan sialnya orang-orang tersebut hanyalah aku dan Rangga. Karena tersadar bahwa diri ini adalah golongan yang menganut aliran anti basah-basahan maka menjauhkan diri dari mereka adalah cara yang terbaik. Sedangkan Rangga terlihat termenung menatap jauh ke arah laut setelah mengamankan beberapa benda berharga kami di jok motornya. Ntah apa yang difikirkannya. 

Setelah beberapa saat kami asyik dengan kegiatan kami masing-masing. Kami baru sadar bahwa ada sesuatu yang aneh diantara kami, ada sesuatu yg hilang diantara kami. “Rangga”, kemanakah dia????. Dia adalah anak yang paling asyik, rame dan loyal diantara kami. Sehingga jika dia tidak ada, suasana terasa sepi. Kami sudah mencoba untuk memanggil-manggilnya dan mengelilingi pesisir pantai tapi hasilnya nihil. Terakhir kali saya melihat dia duduk di pesisir pantai sambil memandangi lautan. Ada teman lain yang melihatnya duduk kemudian berdiri dan berjalan-jalan menyusuri pantai kemudian menuju laut. Kesaksian teman lain menyebutkan ketika berjalan menuju pantai kemudian menghadap ke timur, dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Tapi diantara teman-teman yang melihat tersebut hanya bisa berbicara dalam hati tanpa menyapanya untuk kembali. Semua teman-teman yang melihat kejadian itu sempat belum berani mennyatakan kalau teman kita hilang. Kita pun masih terus mencari-mencari. Kemudian ada dua teman kami yang memberikan kesaksian, Jacky melihat dia berjalan menuju karang dan air sudah mencapai dada. Lain halnya dengan dengan Novi, dia melihat ketika air sudah sampai  ujung tangannya. Rangga berjalan mendekti karang, sedikit menepi menuju laut. Ketika sampai di samping karang, ombak yang besar berhasil mencapai ujung jari tangan yang sempat dia lambaikan. Novi melihat kejadian itu sempat tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa. 

Novi berusaha untuk meyakinkan kita bahwa Rangga telah tertelan ombak. Tapi kami tidak ada yang percaya.  Karena seperti kebiasaanya dia sering menghilang tanpa jejak kemudian setelah  beberapa saat kembali lagi dengan kita.  Kami baru tersadar bahwa apa yang dikatakan Novi bisa saja benar. Kemudian kami menyebar naik ke bukit-bukit untuk melihat keadaanya dari atas.  Tapi setelah keliling bukit hasilnya tetap nihil.  

Matahari sudah hampir tenggelam, sedangkan Rangga tak kunjung kembali kepada kami. Kesaksian Novi dan Jacky dan berdasarkan fakta kronologi tenggelamnya Rangga menimbulkan berbagai tanda tanya.  Berdasarkan kesaksian teman-teman sebelum tenggelam, Rangga sempat duduk di tepi pantai. Pandangannya menerawang jauh ke laut.   Kemudian kesaksian teman yang lain melihatnya dia berjalan menyusuri pantai kemudian masuk kelaut dan berjalan ketimur mendekati karang dan bukit. Ketika berjalan dia berhenti sejenak kemudian merentangkan tangan kemudian berjalan lagi. Jacky melihat air sudah mencapai dada. Sedangkan jejak terakhir adalah berdasarkan kesaksian Novi, air sudah mencapai tangannya dan menelannya.  Kami sudah tidak bisa mengandalkan kekuatan kami, akhirnya kami menghubungi ketua RT di desa sekitar pantai untuk membantu menyelesaikan permasalah kami. Kemudian kami juga menghubungi orang tuanya dan polair (Polisi Air).

Polisi, para warga dan kami sendiri  menyebar keseluruh penjuru tepi pantai dan bukit-bukit, berharap jika memang sudah ditakdirkan tidak ada maka kami bisa menemukan jasadnya. Tapi percuma, tidak ada tanda-tanda sama sekali dan ombak semakin besar, seakan-akan melambai-lambai mengajak kami untuk  mengikutinya. Tidak beberapa lama rombongan polisi kota dan orang tua Rangga datang. Dan pencarianpun kami teruskan sampai larut malam hingga menjelang pagi. Akan tetapi ketua RT dan para polisi menyarankan untuk menghentikan pencarian dan menunggu sampai matahari terbit. 

Keadaan pantai yang semula sepi dengan pengunjung, kini menjadi sangat ramai. Semua kalangan datang kesini. Mulai dari polisi, warga sekitar, warga  tempat kami mengabdi, dosen dan para wartawan datang ke TKP. Suasana semakin ramai dan ombak makin hari semakin besar, sampai siang dihari kedua hilangnya Rangga belum ada tanda-tanda yang jelas. 

Salah satu dari polisi air menyarankan untuk pergi kejuru kunci pantai tersebut. Karena berdasarkan kronologi cerita, kejadian ini agak sedikit aneh.  Juru kunci pantai tersebut memang diberi kelebihan indera keenam yang tidak dimiliki oleh orang biasa. Sehingga beliau dapat berkomunikasi dengan penunggu laut selatan. Kemudian beliau meminta kami untuk menunggu sampai besok. Pada malam hari seluruh polisi dan juru kunci stand by di pesisir pantai. Percaya tidak percaya sang juru kunci pantai mengatakan bahwa kehilangan teman kami, bukanlah hilang biasa. Tapi dia semacam hilang berpindah alam. “What???? jaman Internet kayak gini masih ada kepercayaan pantai selatan???” aku mengoceh sendiri, dengan berbagai pertanyaan muncul di kepalaku.  

Ternyata kejadian orang hilang di pantai tersebut tidak hanya hari ini. Setiap tahun pasti ada orang hilang, ntah itu kembali atau tidak.  Meskipun kembali tapi keadaan jasad sudah tidak normal kembali. Ada yang sudah meninggal dengan kulit tubuh dan isi perut yang tidak jelas wujudnya. Ada lagi setelah beberapa hari dan bulan, orang tersebut ditemukan kembali dalam keadaan rambut kuku dan baju berubah wujud. Maksudnya berubah wujud disini adalah, baju sudah berbah wujud dari pertama kali memakai baju kemudian setelah ditemukan hanya bercelan dalam dan kuku, rambut berubah panjang. 

Satu hari, dua hari, dan tiga hari. Tiga hari sudah, kami menetap menjadi anak pantai. Setiap hari kita bersama polisi air dan orang tua Rangga menyusuri pantai. Warga seluruh pantai Seribu dihimbau untuk memberitahukan keadaan pantai daerahnya jika terdapat orang mengapung di laut.  

Tiga hari terakhir kami diminta oleh dosen untuk kembali terlebih dahulu ke tempat pengabdian untuk menyelesaikan segala urusan disana.  Polisi air dan orang tua Rangga masih menetap disana sampai hari ketujuh. Sudah seminggu dia telah pergi menghilang tanpa jejak. Jasad ataupun tanda-tanda lain tidak ditemukan. Teman-teman yang mempunyai kelebihan mengatakan hal yang sama seperti juru kunci katakan, bahwa dia tidak tenggelam biasa. Ntah lah aku sendiri bingung dengan kenyataan ini, semoga dia selalu dalam perlindunganNya. 

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan , tiga bulan dan menjelang empat bulan tidak ada kabar apapun. Tetapi pencarian masih terus dilakukan. Beberapa teman orang tua Rangga ikut membantu  dengan menyakan kebeberapa orang pintar. Dan kebanyakan menjawab  bahwa dia masih hidup. Perasaan ibunya pun mengatakan demikian, bahwa sampai sekarang dia tidak mempunyai firasat bahwa dia telah tiada. Dia masih hidup tapi ntah kita tidak dimana keberadaannya. 


Pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian ini :
  1. Jangan lah berlebih-lebihan dalam bersenang-senang, ingat innallaha laa yuhibbul musrifiin
  2. Dimanapun kamu berada tetaplah ingat kepadNya
  3. Saling menjaga antara teman satu dengan yang lain, jangan biarkan teman menyendiri, melamun dan sebagainya.
  4. Selesaikan kewajiban awalmu dengan baik dan benar
  5. Jangan terlalu banyak tertawa.


Tidak sedang sedih, tidak sedang bahagia, tidak sedang putus asa dan juga tidak sedang kecawa. Hanyasaja sedang ingin berkaca . BERKACA?. Saya ingin berkaca. iya berkaca sebernarnya seperti apakah saya? Hingga mengharapkan sesuatu berlebihan. Sudah pantaskah diri ini untuk mendapatkannya. “Kamu itu masih bodoh, kerdil, kuper. Umur kamu sudah tua, tapi pikiranmu belum juga dewasa. Apakah kamu mencoba menghindar dari umurmu? Apakah kamu mencoba untuk mengelak suatu kenyataan bahwa kamu sudahtidak muda  lagi? Malu donk…umur  setua ini tapi pikiran, jiwa masih ababil. Masih menopang sama orang tua. Masih manja sama orangtua, masih minta-minta sama orang tua. Malu donk…dengan umur setua ini masih bersikap seperti anak muda…”

Saat ini saya memang butuh kaca besar, besar sekali. Hingga semuany terlihat jelas. Sadar, sebenarnya levelmu itu seberapa? . agar sadar juga, tidak terlalu menghayal sesuatu yang berlebihan. Agar  sadar juga bahwa saya ini masih utuh banyak pengalaman, masih butuh belajar. Saya gau keadaan saya seperti ini tidak lah sutu kebulan. Semau sudah ada recana dari sang maha kuasa. Siapa yang tidak ingin hidup mandri? Mempunyai enghasilan sendiri, mempunyai kepribadian bijaksana, dan semprna. Tapi memang di dunia ini tidak ada makhluk yang sempurna. Jika ada yang terlihat sempurna, itu memang hanya terlihat dari luarnya saja. Mereka sangat pandai menutupi kekurangannya. tidak bermaksud menjadi orang lain, hanya saja ingin tampil lebih professional di hadapan orang lain. Boleh saja kan menutupi kekurangan diri kita sendiri? 

Dengan berkaca seperti ini, saya jadi mikir-mikir jika ingin mengharapkan sesuatu yang wah…berkaca dululah dan perbaiki diri agar pantas mendapatkan sesuatu itu. tidak hanya unutk saya, tapi untukkamu, kita semua. Jika belum bisa berkaca dengan benar janganlah bemimpi untuk memdapatkan sesuatu yang besar. Atau paling gak,,,perbaiki diri dulu sebelum kamu malu di depan cermin.

Sekarang sedang hujan...
Hujan dan petir..
Petir itu menyambarku. Ternyata rasanya tidak enak ya,,,disambar petir
Hujan masih terlalu deras. Deras sampai membasahi pipiku...

Tapi setelah hujan saya yakin ada pelangi
Pelangi??
iya pelangi...
pelangi yang selalu indah jika dipandang dengan mata dan hati...
Mungkin hujan masih terlalu deras...
tapi bersabarlah pelangi itu akan datang
Engkau yang pemurah
Engkau yang penyayang
Engkau penciptaku
pengatur nafasku
pengatur aliran darahku
pengatur urat nadiku
penggerak badanku
penggerak langkah kakiku
penggerak bibirku
pemegang skenario hidupku

jauhkanlah yang seharusnya Kau jauhkan
dekatkanlah yang seharusnya Kau dekatkan
selesaikanlah yang seharusnya Kau selesaikan
tanamkanlah yang seharusnya Kau tanamkan
aturlah yang seharusnya Kau atur
buanglah yang seharusnya Kau buang
tunjukkanlah yang seharusnya Kau tunjukkan
datangkanlah yang seharusnya Kau datangkan
hilangkanlah yang seharusnya Kau hilangkan
hadirkanlah yang seharusnya Kau hadirkan







Setiap orang  punya jalan hidup masing-masing. Termasuk dalam memperbaiki hidupnya. Merubah hidup menjadi lebih baik tidak hanya melalui kyai, majelis ta’lim ataupun halaqoh. Ternyata dengan cinta orang bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik. Melalui perantara cinta seorang anak manusia mampu terjaga dari hal –hal yang membahayakannya. Dalam menemukan cintanya, setiap orang pun mempunyai cara yang berbeda. Ada dengan ta’aruf, ketidak sengajaan bahkan ada dengan pacaran. Kali ini saya tidak membahas bagaimanakah menemukan cara menemukan cinta dengan cara yang benar. Pastinya kita sudah tau, mengapa Tuhan membuat kisah hidup setiap orang berbeda? Tuhan hanya ingin kita belajar dari kisah setiap orang. Bukan untuk membandingkan bahwa saya lah yang lebih benar. Tapi untuk diambil pelajaran.

Kisah seorang teman membuat saya terharu.  Saya banyak belajar tentang hidup dari sahabat saya ini. Sebut saja namanya Cita. Saya sudah bersahabat dengannya sejak duduk di bangku SD.  Hidupnya dipenuhi dengan perjuangan. Mulai dari sekolah, keluarga, dan cintanya semuanya memberikan pelajaran berarti. Saya tau ini tak mudah, tapi sahabat saya ini memiki cara pandang sendiri dalam menyikapi setiap masalah yang dia alami. Cinta, setiap orang pasti pernah merasakannya. Bagaimakah rasanya cinta. Cinta memang datang secara tiba-tiba. Ya sekali lagi cinta adalah sebuah rasa menggelora. Kadang bias membunuh orang tapi juga kadang bias membangkitkan hidup orang. Dengan mencintai hidupnya orang tidak akan membiarkan hidipnya berlarut dalam hal yang tidak berguna. Tapi  dengan cinta orang juga bias mati rasa.

“Aku tau ini tak mudah. Jatuh terpuruk. Tak berdaya. Hancur , aku benar-benar hancur. Aku menjadi korban dari kata yang bernama cinta. Katanya cinta itu indah, tapi mana buktinya?. Nyatanya aku adalah korban dari cinta. Tapi tak mengapa. Hidup adalah sementara. Walaupun hati ini terluka, tapi ini hanya sementara. Tidak, walaupun ini hanya sementara tapi aku harus bahagia”

Pembukaan obrolan singkat yang menusuk. Bangkit dan kau akan bahagia. Dari sinilah dia bangkit kembali. Dia menemukan sosok, yang menurut kasat mata memang sosok itu tidak lah sempurna. Itukan dari kasat mata orang awam, hanya memandang covernya saja. Tapi tidak bagi dia. Bagi Cita sosok ini membuatnya bahagia. Dia bukanlah lulusan sarjana, ataupun alim ulama. Dia adalah sosok yang ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik dan berguna. Sosok yang putus sekolah ketika SMU karena kenakalannya. Saat ini, diumurnya yang tidak remaja lagi dia ingin sekolah kembali. Tekatnya membuat Cita menangis. Menyambung kembali rapot SMUnya. Diusianya yang tidak lagi remaja bagiku ini butuh perjuangan mental. Bayangin sekolah SMU, ketika teman-teman seumurannya sudah S2, dia baru akan menyelesaikan pendidikan SMUnya. Dia memang sedang jatuh cinta. Tapi dengan perantara cinta hidupnya kembali bermakna. Dan dengan cintanya bisa membuat orang lain lebih berguna dan bahagia. 

Add caption
“ Hen, kamu tau sendirikan..kalau kamu lihat hidupku kemarin, aku benar-benar hancur. Aku mulai dari nol. Sekarang, aku ketemu orang yang putus sekolah karena nakal. Aku ajak dan ajari dia sekolah lagi. Aku ajari dia belajar ngaji, sholat. Aku bahagia, aku berguna buat hidup orang lain. Aku ingin dia sukses suatu saat nanti. Jodoh Allah sudah mengaturnya, kita hanya bisa berdo’a dan pasrah. Jalan kita beda Hen…aku pilih orang seperti itu karena dia butuh aku untuk berubah dari orang nakal jadi orang yang lebih baik. Setiap dia ke sekolah, Setiap dengar dia belajar, ngaji aku bahagia banget. Aku gak mikirin nikah dulu, aku ingin dia kuliah dulu. Tiap malam aku ngajari Matematika dan Bahasa Inggris lewat telepon dan ngajari baca iqro’ tiap subuh. Aku juga pengen nangis kalau lihat perjuangan dia apalagi kalau teman-teman nya ngajak main dan hura-hura. Dia cuma satu tekat merubah hidupnya. sekarang dia sekolah lagi hen…nglanjutin rapot SMUnya. Awalnya aku juga tidak percaya, tapi ini sudah setengah jalan. Aku tahan sendiri keadaan ini, tapi jujur aku bahagia dengan perubahannya. Mungkin kalau orang-orang tau pasti banyak yang mencela, meremehkan dan merendahkan. Aku Cuma bisa diam selama ini. Untuk berubah seperti ini, dia berjuang mati-matian meninggalkan kehidupannya dulu juga teman-temannya. Aku bahagia sekalipun keadaan masih sepert ini. Kita ini wanita. Kita ini butuh keseriuasan dan kepastian. Sebisa mungkin kita ini harus dicintai jangan mencintai. Jangan cari kesempurnaan dari orang, tapi carilah orang yang berusaha membahagiakan kita”

Walaupun hanya pesan sms, sungguh kisahnya membuatku terharu. Sikapnya dalam menghadapi hidup, merubah dan memandang orang sangat menakjubkan. Dia berguna untuk orang lain dan dia kini bahagia.  Tidak memandang dari segi spiritual, agama atau apapun. Tapi yang jelas, Cita telah berhasil memotivasi hidup orang. Telah berhasil mendukung cita-cita orang untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Yah, sekali lagi jalan setiap orang itu memang berbeda. Kita tidak bisa memaksakan orang lain mengikuti jalan kita. Setiap orang mempunyai jalan masing-masing dalam menemukan kebahagiannya. Life is Rainbow ^^



          Menjelang akhir tahun 2012, banyak sekali film terbaru buatan anak bangsa di bioskop. Salah satunya adalah 5 cm. Film yang diangkat dari novel best seller 5 cm oleh Donny Dhirgantoro dan disutradarai oleh Rizal Mantovani ini menggemparkan para penonton yang melihatnya. Film yang menceritakan tentang 5 persahabatan ini mengambil scene di puncak tertinggi jawa, Gunung semeru. Banyak para penonton setelah melihat film ini semakin menumbuhkan jiwa nasionalis, semakin cinta Indonesia. Tidak hanya itu setalah film ini pasti ingin mendaki Puncak Mahameru. Puas. Keren, The best Indonesia movie ever. Kata-kata kepuasan muncul dari penonton 5 cm. saya akui. Semuanya tersihir oleh keindahan alam Indonesia. Bagi yang dulunya sempat pesimis sama Indonesia, setelah nonton film ini dijamin makin cinta sama Indonesia. Tidak hanya negaranya. Tapi juga makin cinta sama alamnya. Ini bukan promosi lo…karena saya merasakan sendiri hehehe. Sudah dua kali saya nonton film ini di bioskop. Ternyata saya masih saja ketawa sama leluconnya dan semakin tersepona sama alam Indonesia. Sampai-sampai saya penasaran sama proses syuting dan promosi filmnya. Akhirnya browsing di youtube dari ketika para pemain ini di wawancarai di acara Hitam Putih, trailerny, dan sampai ketika promo. Baca semua komentar di youtobe hampir tidak ada yang berkomentar negative pada film ini. Sampai pada akhirnya saya menemukan 2 komentar dari aktivis alam. Kira-kira begini komentarnya:

A : film ini bikin, orang naik gunung gara-gara cinta, persahabatan, dll. bukan gara2 cinta terhadap alam, pastinya akan banyak sampah digunung kalau orang naik gunung hanya untuk itu

B: bener mas. saya dari pecinta alam surabaya. setelah film itu ribuan orang banyak ke semeru untuk membersihkan semeru. tapi mereka tidak sadar kalau itu malah merusak vegetasi alam semeru

         Tidak bermaksud membela siapa pun, tapi kalau benar kenyataanya seperti itu, pecinta alam bisa langsung konfirmasi pada seluruh kru film 5 cm. Tujuan pembuatan film ini adalah untuk menumbuhkan jiwa nasionalime para penontonnya dan menikmati keindahan alam Indonesia. Saya sih posisitif thinking saja, mungkin para pemimpin kru tersebut sudah menghimbau untuk tetap menjaga lingkungan agar membuang sampah pada tempatnya. Pastinya ada saja dari anggota kru, kesadaran terhadap lingkungan belum sepenuhnya, atau ungkin masih saja ada yang khilaf. Sehingga masih meninggalkan sisa-sisa sampah. 


          Untuk seluruh kru film saya yakin, setelah melakukan syuting ini pastinya mereka sudah berusaha keras untuk membersihkannya, tapi sekali lagi tanggung jawab terhadap alam itu juga penting. Jangan hanya menggunakan ikon alam untuk bekerja, membangkitkan kecintaan alam dan nasionalisme terhadap bangsa tapi ternyata masih menyisakan noda terhadap alam dan bangsa. Kepada pecinta alam mohon untuk mengkonfirmasi kembali kepada seluruh kru film 5 cm agar tidak ada kasak-kusuk di belakang layar. Sehingga munculnya film ini benar-benar menginspirasi, membawa dampak positif bagi penontonnya, pembuatnya dan seluruh warga negara Indonesia